Konten viral adalah konten yang mampu menarik perhatian banyak orang hingga tersebar luas di media sosial maupun mesin pencari. Bagi bisnis, konten viral sangat penting karena dapat memperluas jangkauan, meningkatkan brand awareness, hingga memperkuat citra produk.
Menurut buku Digital and Social Media Marketing: A Result Driven-Approach, ada dua elemen kunci agar konten viral: relevan dengan audiens dan memunculkan emosi yang kuat.
Lebih lanjut, Dr. Jonah Berger dalam bukunya Contagious memperkenalkan framework STEPPS (Social Currency, Trigger, Emotion, Public, Practical Value, Stories). Framework ini menjelaskan enam unsur utama yang bisa membuat sebuah konten menjadi viral. Mari kita bahas satu per satu:
Baca Juga: OpenAI Luncurkan Sora, Media Sosial AI Pesaing TikTok & Meta 1. Social Currency – Konten yang Membuat Audiens Terlihat Lebih BaikSetiap orang peduli dengan citra diri di mata orang lain. Mereka ingin terlihat pintar, keren, atau selalu update. Karena itu, konten yang memberi nilai tambah pada citra audiens akan lebih mudah dibagikan.
Contoh: bisnis kecantikan bukan hanya menjual produk, tapi juga membagikan tips merawat kulit sehat alami. Informasi ini membuat audiens merasa pintar sekaligus bermanfaat jika dibagikan.
2. Trigger – Konten yang Mudah Melekat di IngatanKonten viral sering kali lahir dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kata, gambar, atau situasi yang menjadi pemicu akan membuat orang teringat dan membicarakannya.
Contoh: kata "Kerja lembur" otomatis mengingatkan orang pada iklan "Kerja lembur bagai kuda." Trigger sederhana bisa menjadikan produk atau ide lebih mudah diingat.
3. Emotion – Konten yang Menggerakkan PerasaanKonten yang datar tidak akan memancing interaksi. Sebaliknya, konten yang menimbulkan emosi (bahagia, haru, marah, lucu, atau inspiratif) lebih mudah viral.
Contoh: kampanye kesehatan mental dengan pesan "Cintai dirimu sebelum mencintai orang lain" menjadi viral karena relevan dan menyentuh emosi banyak orang.
4. Public – Konten yang Mudah Dilihat dan DitiruSemakin terlihat sesuatu di publik, semakin besar kemungkinan orang lain menirunya. Viralitas sering datang dari sesuatu yang bisa jadi tren atau simbol baru.
Contoh: Apple iPhone X viral karena desain notch-nya unik dan mudah dikenali. Bahkan kompetitor ikut menirunya.
5. Practical Value – Konten yang Berguna dan Bisa DipraktikkanKonten viral bukan hanya menarik, tapi juga bermanfaat dan mudah diterapkan oleh audiens. Orang lebih suka membagikan informasi yang bisa membantu orang lain.
Contoh: konten Instagram Riliv yang menggambarkan kadar kebahagiaan dengan takaran sendok. Sederhana, mudah dipahami, dan relatable.
6. Stories – Konten yang Dikemas dalam Narasi MenarikCerita adalah alat komunikasi paling kuat. Narasi membuat informasi lebih mudah dipahami, diingat, dan dibagikan.
Contoh: daripada hanya menulis "Belajar online semakin mudah dengan internet," Anda bisa membuat kisah karakter yang bingung saat pandemi lalu menemukan solusi lewat internet. Cerita personal akan lebih membekas.
Kesimpulan
Membuat konten viral bukanlah tujuan utama, melainkan bonus dari ide yang tepat sasaran. Dengan memahami framework STEPPS Jonah Berger, Anda bisa memperbesar peluang agar konten bisnis Anda tidak hanya menarik, tapi juga layak dibagikan secara luas.
Ingat, konten viral selalu berangkat dari nilai relevansi, manfaat, dan emosi yang kuat.