Banyak orang percaya bahwa untuk bisa sukses di era kecerdasan buatan (AI), seseorang harus menguasai keterampilan teknis seperti coding, deep learning, atau rekayasa AI.
Namun, CEO Amazon Web Services (AWS), Matt Garman, punya pandangan berbeda.
Menurut Garman, keterampilan teknis bukanlah kunci utama keberhasilan di masa depan.
Baca Juga: Tanpa Kode Redeem FC Mobile, Login Saja Bisa Klaim Pemain Gratis EPL & LaLiga OVR 103 Akhir Pekan Ini, Cek! Justru, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, fleksibilitas, dan komunikasi interpersonal akan lebih menentukan.
"Saya pikir bagian dari kuliah adalah membangun pemikiran kritis. Ini bukan sekadar soal keterampilan teknis, tetapi bagaimana menjadi seorang pemikir kritis. Itu akan jadi keterampilan terpenting di masa depan," ujar Garman, dikutip CNBC, Rabu (13/8/2025).
Soft Skill Lebih Dicari daripada Gelar Teknis
Garman menilai, perusahaan-perusahaan kini lebih banyak mencari tenaga kerja dengan soft skill kuat.
Bahkan ia mendorong anaknya yang masih SMA agar fokus mengasah pemikiran kritis saat kuliah, tak peduli jurusan apa yang diambil.
Selain critical thinking, Garman menekankan pentingnya kreativitas, kemampuan belajar cepat, serta adaptasi terhadap teknologi baru—termasuk alat berbasis AI.
Komunikasi, Senjata yang Tak Bisa Digantikan AI
Menurutnya, AI memang mampu mengotomatisasi banyak pekerjaan administratif. Namun, ada aspek yang tidak bisa digantikan oleh mesin: empati, kecerdasan sosial, dan komunikasi efektif.
"Keterampilan interpersonal akan tetap sangat penting dalam jangka panjang. Pelanggan tetap ingin berbicara dengan manusia, mendapatkan wawasan, serta perhatian pribadi," jelasnya.
Komunikasi, kata Garman, bukan hanya soal menyampaikan ide, tapi juga mendengarkan secara aktif, menangkap isyarat sosial, dan memberi umpan balik yang mendalam.
AI vs Critical Thinking
Studi Scientific Reports (2023) yang dipublikasikan di jurnal National Library of Medicine juga mendukung pandangan ini.
Riset tersebut menunjukkan bahwa meskipun AI bisa meniru kecerdasan manusia, ia tetap tidak mampu menandingi pemikiran kritis dan kreativitas yang melahirkan ide-ide baru dan penilaian bernuansa.
Keterampilan berpikir kritis dapat diasah di hampir semua bidang studi maupun aktivitas sehari-hari—mulai dari mengajukan pertanyaan reflektif hingga bermain permainan strategi.