Industri manufaktur kembali tercatat sebagai sektor yang paling rentan terhadap serangan siber global. Berdasarkan laporan IBM X-Force Threat Intelligence Index 2025, manufaktur menjadi target utama hacker selama empat tahun berturut-turut, mengungguli sektor keuangan, jasa bisnis, dan energi.
Laporan tersebut menyoroti pola serangan berulang yang terjadi akibat minimnya pembaruan teknologi keamanan di sektor manufaktur.
Meski kasus ransomware menurun dibanding 2024, dampak yang dialami tetap signifikan, terutama pemerasan (29%) dan pencurian data (24%) yang menargetkan aset finansial dan kekayaan intelektual perusahaan.
Salah satu kasus terbaru menimpa Jaguar Land Rover (JLR) di Inggris. Aksi peretasan pada September 2025 memaksa produsen otomotif itu menonaktifkan sistemnya.
JLR, yang tahun lalu mengirim sekitar 400.000 kendaraan, melaporkan insiden ini ke bursa saham Mumbai. Pasca serangan, kebocoran data terkonfirmasi, meski perusahaan masih melakukan investigasi forensik.
Beberapa pemasok komponen, seperti Eberspächer Gruppe GmbH & Co., juga terdampak hingga menghentikan produksi.
"Serangan siber telah menjadi ancaman finansial serius bagi sektor manufaktur. Banyak perusahaan terpaksa menghentikan produksi, yang berdampak langsung pada rantai pasok global," tulis laporan IBM X-Force.
Daftar Industri Paling Rawan Serangan Siber 2025 (versi IBM X-Force)
Manufaktur – 26%Keuangan & Asuransi – 23%Jasa Layanan Bisnis – 18%Energi – 10%Transportasi – 7%Ritel – 5%Layanan Kesehatan – 5%Pemerintah – 3%Asia Pasifik Jadi Target Utama
IBM X-Force mencatat kawasan Asia Pasifik mengalami peningkatan ancaman siber hingga 13% pada 2025. Faktor utamanya adalah posisi kawasan ini sebagai pusat manufaktur dan teknologi global.
Yang mengkhawatirkan, pelaku kejahatan kini semakin banyak memanfaatkan AI generatif untuk melancarkan serangan.
Deepfake digunakan dalam phishing, sementara email berisi kode berbahaya meningkat tajam.
Jumlah infostealer yang dikirim lewat phishing tercatat melonjak 84% secara mingguan dibanding tahun lalu.
"Ancaman kini tidak lagi sekadar berbentuk ransomware. Hacker memanfaatkan AI untuk membuat serangan lebih meyakinkan dan sulit terdeteksi," tulis laporan IBM.
Kesimpulan: Sektor manufaktur masih jadi sasaran utama peretasan dunia maya. Asia Pasifik, termasuk Indonesia, harus meningkatkan proteksi siber, terutama menghadapi tren penggunaan AI dalam kejahatan digital.