Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan daftar mikroorganisme berbahaya yang kerap menjadi penyebab keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan, pemetaan bakteri dan virus ini penting agar penanganan medis maupun pencegahan bisa lebih tepat sasaran.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Kamis (2/10/2025), Budi menyebut ada delapan bakteri serta dua virus yang sering memicu keracunan makanan pada anak-anak.
Delapan Bakteri Berbahaya
Baca Juga: Heboh! Nampan Makan Bergizi Gratis Mengandung Minyak Babi, Begini Tanggapan Istana SalmonellaEscherichia coli (E. coli)Bacillus cereusStaphylococcus aureusClostridium perfringensListeria monocytogenesCampylobacter jejuniShigellaMenurut Menkes, bakteri-bakteri tersebut umumnya muncul akibat pengolahan atau penyimpanan makanan yang tidak higienis. Contohnya, Salmonella dan E. coli sering berasal dari daging atau telur yang kurang matang, sementara Listeria dapat muncul pada produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi.
Adapun Staphylococcus aureus biasanya ditemukan pada makanan yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang.
Dua Virus Pemicu Keracunan
Selain bakteri, ada juga dua virus utama penyebab keracunan MBG:
Norovirus/Rotavirus – sangat menular dan dapat menyebar cepat di lingkungan sekolah, terutama bila kebersihan tangan tidak dijaga.
Hepatitis A virus – biasanya menular lewat makanan atau air yang terkontaminasi kotoran manusia, dan dapat memicu infeksi hati.
Pentingnya Identifikasi Patogen
"Kenapa ini menentukan untuk kita cari tahu? Karena ini nanti menentukan, pertama, treatment-nya seperti apa kalau anak-anak kena," ujar Budi.
Ia menambahkan, identifikasi patogen juga membantu melacak sumber kontaminasi, sebab setiap bakteri dan virus memiliki pola penyebaran berbeda.
Perkuat Higienitas Program MBG
Budi menekankan perlunya sinergi antara tenaga kesehatan, sanitarian, dan pengelola dapur MBG untuk memastikan standar keamanan pangan. Pemeriksaan rutin serta penerapan higienitas dapur dinilai sebagai kunci agar kasus keracunan tidak berulang.
"Program MBG bukan hanya soal gizi, tetapi juga keamanan makanan yang diterima siswa. Kesehatan anak-anak adalah prioritas utama kita," tegas Menkes.