Harga emas di pasar spot menguat pada awal perdagangan Rabu (29/10/2025) setelah tiga hari berturut-turut mengalami tekanan, seiring meningkatnya selera pasar terhadap aset berisiko di tengah optimisme tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot naik 0,42% atau 16,02 poin ke level US$3.968,16 per troy ounce, setara sekitar Rp2,11 juta per gram pada pukul 07.24 WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS melemah 0,12% atau 4,6 poin ke level 3.978,5 per troy ounce.
Logam mulia ini diperdagangkan dalam kisaran sempit menjelang pertemuan yang dijadwalkan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Menurut laporan The Wall Street Journal, Washington bersedia mencabut sebagian tarif impor jika Beijing memperketat pengawasan terhadap ekspor bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan fentanyl.
Prospek kesepakatan antara dua ekonomi terbesar dunia ini menambah sentimen positif di pasar, disertai dengan reli saham teknologi yang memperkuat optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan.
Setelah reli tajam yang sempat membawa harga menembus rekor di atas US$4.380 pekan lalu, emas kini terkoreksi cukup dalam—meski dianggap wajar setelah lonjakan harga yang terlalu cepat.
Sepanjang tahun ini, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 50%, didukung pembelian besar-besaran oleh bank sentral serta tren "debasement trade", strategi investor yang menghindari surat utang dan mata uang negara untuk melindungi kekayaan dari risiko defisit fiskal yang melebar.
Lonjakan harga emas juga memicu arus dana besar ke produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas, meski dukungan itu mulai memudar.
Data Bloomberg menunjukkan investor menarik sekitar US$1 miliar dari SPDR Gold Shares milik State Street pada Senin, menjadi penarikan harian terbesar semenjak April lalu.