AstraZeneca Paparkan Hasil Studi Klinis Terbaru di ESMO Asia 2025, Fokus Terapi Inovatif dan Deteksi Dini Kanker Stadium Awal

Syauqi Ammar Mahmuda - Rabu, 17 Desember 2025 11:58 WIB
net
AstraZeneca.

AstraZeneca, perusahaan biofarmasi global berbasis sains, memaparkan bukti klinis terbaru dalam ajang ESMO Asia 2025 di Singapura. Paparan ini menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong kemajuan perawatan kanker di Asia melalui pendekatan yang lebih personal, dini, dan efektif.

Data yang dipresentasikan berfokus pada kanker paru, kanker gastrointestinal, dan kanker payudara, tiga jenis kanker dengan prevalensi tertinggi di kawasan Asia.

Beban Kanker di Asia Terus Meningkat

Dengan populasi lebih dari 4,8 miliar jiwa atau sekitar 60% populasi dunia, Asia menanggung hampir 50% kasus kanker baru global dan sekitar 60% kematian akibat kanker.

Beban ini diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi, penuaan, industrialisasi, paparan karsinogen, serta perubahan gaya hidup.

Sylvia Varela, Area Vice President Asia AstraZeneca, menyatakan bahwa inovasi deteksi dini, diagnostik presisi, dan terapi berbasis bukti klinis menjadi kunci untuk meningkatkan hasil pengobatan pasien kanker di Asia.

Fokus Utama AstraZeneca di ESMO Asia 2025

1. Memperluas Akses Diagnostik dan Terapi Kanker Paru EGFRm NSCLC

Kanker paru tetap menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di Asia. Mutasi EGFR pada pasien NSCLC ditemukan lebih sering pada populasi Asia dibandingkan negara Barat, sehingga pemeriksaan molekuler sejak awal menjadi krusial.

Data klinis menunjukkan:

Tahap neoadjuvan: EGFR-TKI, baik sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan kemoterapi, meningkatkan respons patologis dengan kualitas hidup yang terjaga.Stadium III tidak operabel: EGFR-TKI dalam rangkaian peri-kemoradiasi menunjukkan respons tinggi dengan profil keamanan yang dapat ditoleransi.Pasien dengan amplifikasi atau overekspresi MET: Penambahan inhibitor MET pada EGFR-TKI memberikan respons yang lebih kuat dan tahan lama.Temuan ini menegaskan pentingnya pemeriksaan EGFR dan MET secara komprehensif di setiap tahapan penyakit.

2. Imunoterapi dan Terapi Target untuk Kanker Gastrointestinal

Lebih dari 50% kasus kanker gastrointestinal dunia ditemukan di Asia. Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan imunoterapi sejak tahap awal dan berkesinambungan dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup pasien.

Hasil penting meliputi:

Kanker lambung dan gastroesophageal junction: Kombinasi imunoterapi dan kemoterapi meningkatkan overall survival dan event-free survival, termasuk pada pasien Asia dengan kompleksitas penyakit lebih tinggi.Kanker hati stadium lanjut: Regimen kombinasi imunoterapi menunjukkan manfaat kelangsungan hidup hingga lima tahun, terutama di wilayah dengan prevalensi hepatitis B yang tinggi.Hal ini menegaskan perlunya penguatan diagnostik dan alur rujukan multidisiplin agar pasien mendapat terapi paling tepat.

3. Peran Antibody Drug Conjugates (ADC) dalam Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan kanker paling sering didiagnosis pada perempuan. Di Asia, kanker payudara cenderung terdiagnosis pada usia lebih muda (40–50 tahun), sehingga kompleksitas penyakit menjadi lebih tinggi.



Tag:

Berita Terkait